pragmatisme.
satu-satunya kata kunci yang saya tangkap pada kuliah filsafat barat kontemporer hari ini adalah : PRAGMATISME.
saya bahkan tidak memperhatikan siapa saja tokohnya.
saya terlalu sibuk memusatkan perhatian pada satu kata itu.
Pragmatisme.
kata yang saya dengar berulang-ulang,
dari orang-orang yang mungkin sama sekali tidak tahu apa maknanya.
sayapun (dulunya) juga begitu.
dulu pernah, ada seseorang yang mengatakan kepada saya, " dasar orang pragmatis! "
dia mengatakannya seperti ejekan.
nah, sekarang saya benar-benar yakin orang itu tidak mengerti apa arti sebenarnya dari pragmatis!
hahaha...
siapa yang tidak mau menjadi pragmatis??
oh Tuhan... begitu senangnya saya menjadi pragmatis!
berarti saya realistis.
tidak hanya meng-ide-kan.
tidak hanya memikirkan.
tapi saya benar-benar mewujudkan.
apa salahnya dengan itu?
pragmatisme : ide lebih dulu dari kenyataan
dan kenyataan lah yang penting.
bukan hanya sebatas ide.
bukan hanya sebatas teori.
bukan sekedar manusia yang berkata-kata,
tapi juga manusia yang bertindak.
manusia pragmatis.
bagi saya itu pujian.
jika pernah ada seseorang mengatakan itu dengan memaki,
siapa yang bodoh disini?
sayakah yang terlalu congkak karena dianggap pragmatis,
atau orang itu yang ingin behati-hati dengan tindakannya?
lalu menjadi takut, dan menganggap manusia pragmatis adalah manusia teledor,
dan kata 'pragmatis' adalah makian baginya?
apalah itu.
saya bangga jika saya memang pragmatis.
Kamis, 17 Desember 2009
novel vampire yang bercinta
saya sedang membaca sebuah novel.
novel fiksi tepatnya,
tentang vampire, manusia, bercinta, werewolf...
anda pasti tahu novel apa itu.
jika yang lain tegang saat membacanya,
saya malah tertawa tawa.
astaga.
fiksi yang bergurau.
mengacaukan imajinasi.
menyeret ke dalam dunia serba terbalik.
dunia yang mengamburadulkan dunia mitos.
saya terkekeh-kekeh.
saya membacanya hanya untuk hiburan.
maksud saya, memang benar-benar HIBURAN.
novel fiksi tepatnya,
tentang vampire, manusia, bercinta, werewolf...
anda pasti tahu novel apa itu.
jika yang lain tegang saat membacanya,
saya malah tertawa tawa.
astaga.
fiksi yang bergurau.
mengacaukan imajinasi.
menyeret ke dalam dunia serba terbalik.
dunia yang mengamburadulkan dunia mitos.
saya terkekeh-kekeh.
saya membacanya hanya untuk hiburan.
maksud saya, memang benar-benar HIBURAN.
Sabtu, 12 Desember 2009
harga sebuah penghargaan
penghargaan, bukan berarti suatu sanjungan.
menghargai lebih bermakna daripada menyanjung...
suatu tulisan, gubahan lagu, perkataan, buah pikiran, ide, atau bahkan humor garing...
semuanya butuh penghargaan. ingin dihargai...
bayangkan,
bagaimana rasanya jika kita melemparkan joke yang kita anggap lucu, tapi nyatanya garing? jayus?
mending tidak ada yang tertawa,
parahnya jika ada yang nyeletuk, " ih apa sih, garing banget. "
memang itu bukan sanjungan, tapi... ekspresi lain : cemooh (?)
lebih baik diam. atau malah jika anda lebih bijaksana,
senyumlah... walau anda tahu dengan sadar bahwa joke itu tidak lucu sama sekali.
paling tidak itu sedikit melegakan,
tidak membuat kecewa... melucu juga usaha yang susah kan?

begitu mahal harga sebuah pengharaan.
jujur saja, saya juga begitu. menghargai adalah hal yang susah...
tapi itulah 'sanjungan' yang paling tinggi,
yang tidak perlu dikatakan dengan tersirat.
tidak perlu ada sakit hati... tidak ada kecewa.
harga yang mahal...
tapi jika kita mampu 'membeli', tidak akan mengecewakan.
kualitasnya bagus. setimpal dengan harganya.
membuat kita bahagia...
membuat orang lain terus berkarya...
keep in respect.
menghargai lebih bermakna daripada menyanjung...
suatu tulisan, gubahan lagu, perkataan, buah pikiran, ide, atau bahkan humor garing...
semuanya butuh penghargaan. ingin dihargai...
bayangkan,
bagaimana rasanya jika kita melemparkan joke yang kita anggap lucu, tapi nyatanya garing? jayus?
mending tidak ada yang tertawa,
parahnya jika ada yang nyeletuk, " ih apa sih, garing banget. "
memang itu bukan sanjungan, tapi... ekspresi lain : cemooh (?)
lebih baik diam. atau malah jika anda lebih bijaksana,
senyumlah... walau anda tahu dengan sadar bahwa joke itu tidak lucu sama sekali.
paling tidak itu sedikit melegakan,
tidak membuat kecewa... melucu juga usaha yang susah kan?

begitu mahal harga sebuah pengharaan.
jujur saja, saya juga begitu. menghargai adalah hal yang susah...
tapi itulah 'sanjungan' yang paling tinggi,
yang tidak perlu dikatakan dengan tersirat.
tidak perlu ada sakit hati... tidak ada kecewa.
harga yang mahal...
tapi jika kita mampu 'membeli', tidak akan mengecewakan.
kualitasnya bagus. setimpal dengan harganya.
membuat kita bahagia...
membuat orang lain terus berkarya...
keep in respect.
childhood
mereka bilang tentang Yoan, waktu dulu ( ataupun sekarang ) yoan :
mama : " suka ma'nyaa'... ( woops, arti sebenarnya hanya untuk kalangan tertentu ) "
papa : " suka mblendhis ( ga pake baju ) "
mas yosi : " suka ngupil "
mbah besar : " suka makan tahu campur "
adek2 : " suka ngejitak "
bunny : " suka ngeyel... "
Hhhmm..
mereka yang mengerti..
with love.
mama : " suka ma'nyaa'... ( woops, arti sebenarnya hanya untuk kalangan tertentu ) "
papa : " suka mblendhis ( ga pake baju ) "
mas yosi : " suka ngupil "
mbah besar : " suka makan tahu campur "
adek2 : " suka ngejitak "
bunny : " suka ngeyel... "
Hhhmm..
mereka yang mengerti..
with love.
amor. amore. a more
Papa bilang saya seorang penulis (?)
papa bilang saya seorang penulis.
dia bilang saya suka membuat novel. haha... itu dulu. dulu kala.
saat saya masih diliputi imajinasi. saat saya membayangkan hidup itu... segala sesuatu yang saya inginkan.
saya bisa membuat si lakon jatuh cinta.
saya bisa membuat si lakon terlihat pintar, (setidaknya dalam pikiran saya ) tampan atau cantik.
saya bisa membuat si lakon... ah, apa sajalah. yang membuat dia sempurna.
yang masih mampu saya imajinasikan.
tapi sekarang, saya bukan 'penulis novel' seperi yang papa katakan.
tidak tahu ya kenapa...
saya seperti kehilangan pikiran-pikiran menyenangkan saya. semacam lelah berimajinasi. wow.
karena kemudian seiring dengan berjalannya waktu, saya belajar dari kehidupan.
belajar dari ketiadaan... bahwa kehidupan bukan seperti itu.
kehidupan bukan hanya jatuh cinta, menjadi pintar, kaya, cantik... bla bla bla.
ternyata kehidupan itu lebih dalam...
macamnya lebih beragam... berjuta ragam.
yang saya sendiri pun belum mengenal semua itu.
yang menarik, adalah kehidupan di luar kehidupan diri pribadi.
seperti contohnya...
ehhmm...
kakek tua yang berjualan mainan di emper toko, dengan wajah sumringahnya.
seorang pengamen tua yang bermain dengan siter-nya.
pekerja kebersihan di bandara.
seorang remaja muda yang menjadi kuli angkut di stasiun.
dan yang lainnya...
orang-orang ini yang saya temui di berbagai tempat,
di berbagai scene kehidupan saya...
merekalah yang saya sebut sebagai 'rasa kehidupan' yang berbeda.
kehidupan yang sama sekali bagi saya tidak 'sempurna'.
kehidupan yang lebih berbobot dari sekedar wajah cantik atau kaya.
disinilah kesulitannya...
setiap saya ingin memulai menulis cerita tentang kehidupan itu,
saya merasa tidak mampu...
merasa itu terlalu bermakna...
saya takut saya tidak begitu jago menyampaikan maknanya.
dan yeah,
inilah saya sekarang.
mencoba menuangkan pikiran. dan bukan novel. :)
sembari tetap mempelajari hidup.
...
dia bilang saya suka membuat novel. haha... itu dulu. dulu kala.
saat saya masih diliputi imajinasi. saat saya membayangkan hidup itu... segala sesuatu yang saya inginkan.
saya bisa membuat si lakon jatuh cinta.
saya bisa membuat si lakon terlihat pintar, (setidaknya dalam pikiran saya ) tampan atau cantik.
saya bisa membuat si lakon... ah, apa sajalah. yang membuat dia sempurna.
yang masih mampu saya imajinasikan.
tapi sekarang, saya bukan 'penulis novel' seperi yang papa katakan.
tidak tahu ya kenapa...
saya seperti kehilangan pikiran-pikiran menyenangkan saya. semacam lelah berimajinasi. wow.
karena kemudian seiring dengan berjalannya waktu, saya belajar dari kehidupan.
belajar dari ketiadaan... bahwa kehidupan bukan seperti itu.
kehidupan bukan hanya jatuh cinta, menjadi pintar, kaya, cantik... bla bla bla.
ternyata kehidupan itu lebih dalam...
macamnya lebih beragam... berjuta ragam.
yang saya sendiri pun belum mengenal semua itu.
yang menarik, adalah kehidupan di luar kehidupan diri pribadi.
seperti contohnya...
ehhmm...
kakek tua yang berjualan mainan di emper toko, dengan wajah sumringahnya.
seorang pengamen tua yang bermain dengan siter-nya.
pekerja kebersihan di bandara.
seorang remaja muda yang menjadi kuli angkut di stasiun.
dan yang lainnya...
orang-orang ini yang saya temui di berbagai tempat,
di berbagai scene kehidupan saya...
merekalah yang saya sebut sebagai 'rasa kehidupan' yang berbeda.
kehidupan yang sama sekali bagi saya tidak 'sempurna'.
kehidupan yang lebih berbobot dari sekedar wajah cantik atau kaya.
disinilah kesulitannya...
setiap saya ingin memulai menulis cerita tentang kehidupan itu,
saya merasa tidak mampu...
merasa itu terlalu bermakna...
saya takut saya tidak begitu jago menyampaikan maknanya.
dan yeah,
inilah saya sekarang.
mencoba menuangkan pikiran. dan bukan novel. :)
sembari tetap mempelajari hidup.
...
Jumat, 11 Desember 2009
untuk Anda ( it's not a competition, girl )
boleh saya mengatakan...
jangan membuat segalanya menjadi rivalry.
dengan sepenuh hati, saya benar-benar mengakui anda istimewa.
bahkan jika saya boleh jujur dan merendahkan diri saya serendah-rendahnya, anda memiliki semua yang saya inginkan...
anda pintar, anda benar-benar pintar. anda bisa menentukan dimana anda ingin kuliah, sesuai yang anda mau. saya mengakui ( dan semua orang pun juga begitu ) itu adalah kelebihan anda yang tidak semua orang miliki.
dan saya jujur, itu sesuatu yang dari dulu saya inginkan.
ingin menjadi pintar, memenangi berbagai lomba... membuat orang tua saya bangga...
menceritakan keberhasilan saya kepada teman-teman mereka...
itu satu2nya hal yang membuat saya iri.
dan pernah suatu saat saya tahu, ternyata saya pun bisa membanggakan orang tua saya, tapi bukan dengan akademik... dengan sesuatu yang lain.
kita memang diciptakan berbeda.
anda memiliki kelebihan, banyak kelebihan.
saya pun juga memiliki kelebihan, tidak kalah banyak dengan anda.
tapi memang itu berbeda.
mungkin anda di bidang akademik, dan saya di bidang lain.
apa salahnya?
memang, saya akui saya pernah merasa iri dengan kelebihan anda.
tapi kemudian saya tahu, tidak ada gunanya selalu memendam perasaan itu.
Toh kelebihan seseorang bukan untuk dipermasalahkan, bukan untuk menjadi sebuah keirian.
hanya, lihatlah...
anda memiliki semua itu, anda merasakan dibanggakan... dan saya pun berhak pula merasakan itu, tentu dengan kelebihan saya sendiri.
tidak pernah sedikitpun saya ingin menghancurkan apa yang menjadi kelebihan anda,
toh selama ini apapun yang memacu prestasi anda, saya bantu... dengan sepenuh hati.
karena saya menyayangi anda, karena saya pun (akhirnya tersadar ) bahwa saya juga merasa bangga jika anda melakukan sesuatu dengan sebaik2nya...
saya dengan tulus meminta,
jangan sampai apa yang terjadi saat ini pada diri kita masing2, melahirkan suatu kedengkian...
saya hanya ingin support anda... toh apa salahnya?
keadilan tidak diukur seberapa sama apa yang kita terima bukan?
anda sudah memiliki prestasi2 itu, dan sekarang bidang inilah milik saya...
mari kita sama-sama menerima...
mari kita sama-sama memberi dukungan.
karena kita bersaudara.
karena saya menyayangi anda.
dan dukungan anda sangatlah berarti bagi saya...
.mari belajar menerima keadaan orang lain.
jangan membuat segalanya menjadi rivalry.
dengan sepenuh hati, saya benar-benar mengakui anda istimewa.
bahkan jika saya boleh jujur dan merendahkan diri saya serendah-rendahnya, anda memiliki semua yang saya inginkan...
anda pintar, anda benar-benar pintar. anda bisa menentukan dimana anda ingin kuliah, sesuai yang anda mau. saya mengakui ( dan semua orang pun juga begitu ) itu adalah kelebihan anda yang tidak semua orang miliki.
dan saya jujur, itu sesuatu yang dari dulu saya inginkan.
ingin menjadi pintar, memenangi berbagai lomba... membuat orang tua saya bangga...
menceritakan keberhasilan saya kepada teman-teman mereka...
itu satu2nya hal yang membuat saya iri.
dan pernah suatu saat saya tahu, ternyata saya pun bisa membanggakan orang tua saya, tapi bukan dengan akademik... dengan sesuatu yang lain.
kita memang diciptakan berbeda.
anda memiliki kelebihan, banyak kelebihan.
saya pun juga memiliki kelebihan, tidak kalah banyak dengan anda.
tapi memang itu berbeda.
mungkin anda di bidang akademik, dan saya di bidang lain.
apa salahnya?
memang, saya akui saya pernah merasa iri dengan kelebihan anda.
tapi kemudian saya tahu, tidak ada gunanya selalu memendam perasaan itu.
Toh kelebihan seseorang bukan untuk dipermasalahkan, bukan untuk menjadi sebuah keirian.
hanya, lihatlah...
anda memiliki semua itu, anda merasakan dibanggakan... dan saya pun berhak pula merasakan itu, tentu dengan kelebihan saya sendiri.
tidak pernah sedikitpun saya ingin menghancurkan apa yang menjadi kelebihan anda,
toh selama ini apapun yang memacu prestasi anda, saya bantu... dengan sepenuh hati.
karena saya menyayangi anda, karena saya pun (akhirnya tersadar ) bahwa saya juga merasa bangga jika anda melakukan sesuatu dengan sebaik2nya...
saya dengan tulus meminta,
jangan sampai apa yang terjadi saat ini pada diri kita masing2, melahirkan suatu kedengkian...
saya hanya ingin support anda... toh apa salahnya?
keadilan tidak diukur seberapa sama apa yang kita terima bukan?
anda sudah memiliki prestasi2 itu, dan sekarang bidang inilah milik saya...
mari kita sama-sama menerima...
mari kita sama-sama memberi dukungan.
karena kita bersaudara.
karena saya menyayangi anda.
dan dukungan anda sangatlah berarti bagi saya...
.mari belajar menerima keadaan orang lain.
Langganan:
Postingan (Atom)

