Seperti apa saya belajar? Saat ini saya tengah belajar.
Saya adalah ‘murid’ dari kesalahan, saya mengambil pelajaran dari setiap apa yang menjadi kesalahan saya… dan disinilah saya, saat ini, tepat saat ini, saya sedang ‘belajar’… saya melakukan kesalahan besar, dan saya bermain api… saya pelaku eksperimen yang jahat dan membahayakan… bahkan sekarang –pada titik akhir- saya tidak tahu harus seperti apa menyudahi perjalanan pembelajaran saya di bab ini…
Saya analogikan seperti ini,
Saya adalah seorang anak kecil yang sama sekali belum p[ernah melihat langsung wujud api.
Pada suatu saat, teman sepermainan saya membawa korek api gas milik ayahnya, dan dia menunjukkannya kepada saya, teman saya juga belum pernah melihat api secara langsung selama hidupnya, maka kami berdua sama-sama penasaran dan ingin tahu bagaimana wujud api yang selalu ayah dan ibu kami nasehatkan kepada kami untuk sama sekali tidak bermain-main dengan api.
Kami tidak tahu bagaimana menghidupkan korek api itu, maka kami lempar-lemparkan ke tanah –dan sama sekali kami tidak tahu bahwa korek api itu bisa meledak jika dibanting—tidak menyala. Lalu kami meniup-niupnya, tidak menyala. Lalu dengan seksama, mata kami menyapu ke seluruh badan korek itu, dan ada tombol kecil disana… lalu saya tekan, dan burrrsst… menyala!
Hampir saja api itu mengenai mata saya. Tapi teman saya tidak seberuntung saya, jarinya tersambar api dan melukainya… saya yang melakukan, dan dia yang terluka! ya, dan akhirnya kami tahu bagaimana rupa api, bagaimana api ternyata bisa melukai dia, dan bagaimana kami akhirnya tersadar mengapa orang tua kami selalu dan selalu menasehati hal yang sama tentang bermain api…
Dan ya, memang lalu kami takut untuk bermain api lagi, hanya sekedar tahu bagaimana wujudnya, lalu rasa penasaran kami hilang setelah tahu dan terkena akibatnya. Ternyata api bukan untuk kami anak-anak kecil yang masih ceroboh dan selalu ingin tahu… ternyata memang kami harus menjauhi api.
Baguslah, sekarang kami akhirnya tahu. Walaupun masih tersisa luka bakar di jari teman saya itu, dan saya yakin pasti akan selalu ada bekas luka itu disana, tapi yang penting kami akhirnya tahu… kami akhirnya belajar. Suatu pembelajaran yang menyisakan bekas luka sampai nanti…
Lalu setelah kejadian itu, korek api itu masih saja ada disekitar area bermain kami, seperti selalu ‘mengajak bermain’ : dengan sedikit membakar-bakar kertas, atau hanya sekedar menyalakannya.
Tapi kami sama sekali enggan menyentuh lagi. Karena luka jari teman saya belum sembuh. Karena api bukan hal yang bagus untuk kami ajak bermain….
Haruskah membuat luka di jari yang tidak dapat hilang, hanya untuk mengetahui bahwa api itu ‘tidak baik’ untuk kami?
Minggu, 16 Mei 2010
Jumat, 19 Maret 2010
labelling
Like father – like son
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Jujur, saya tidak tahu banyak soal gen bawaan, gen yang menurun, atau apalah itu… so then saya tidak akan berbicara tentang itu dan semacamnya.
Banyak orang bilang, “ pantas dia pintar, bapak ( atau ibunya ) juga pintar sih… “ atau,
“ wah, dia santun ya kaya ayahnya. “ atau celetukan apalah yang semacam itu…
Oke, ungkapan-ungkapan itu masih sangat bisa diterima. Yaa... dengan alasan apapun : gen-lah, didikan lah, bla bla bla. Lagian siapapun yang dibilang seperti itu, normalnya bangga kan? Bangga menjadi orang yang pintar, atau bangga menjadi orang yang santun, atau bangga memiliki ayah/ibu yang pintar atau santun... kan?
Tapi banyak juga pola pikir orang-orang yang kaya gini, ” ih... jangan dekat-dekat dia, ayahnya seorang pencuri! Siapa tau dia juga pencuri! ” atau,
” jangan sampe anak gadisku dekat-dekat dengan pemuda itu, ibunya kan suka selingkuh! Jangan-jangan nanti kalo anakku sama dia, sering ditinggal selingkuh juga! ”
Well, siapa yang mau dibilang seperti itu??
Saat kita ’diputuskan’ untuk hidup di dunia, kita ngga bisa milih tanggal berapa kita lahir, atau milih dilahirkan di keluarga miskin atau kaya, dan juga kita ngga bisa milih ke orang tua yang seperti apa... apakah mereka pencuri, pembohong, bodoh, dsb.... atau mereka yang pintar, santun, terhormat. Dsb. Ya, ya... kalaupun bisa milih pun kita akan memilih semaksimal mungkin... tapi, in fact, memang pilihan itu ngga pernah tersedia di depan kita....
Nah, kasian banget kita yang lahir ke orang tua yang ( kebetulan ) pembunuh, tukang selingkuh, pencuri, bla bla bla... kan? Kita lahir dengan label ’ anak (sebut saja ) pencuri ’... tanpa kita bisa menawarnya. Kita menjadi korban dari ’keputusan’ yang kita tidak pernah bisa ikut campur dalam pengambilan pilihannya.
Kenapa kita harus selalu menjadi proyeksi seperti apa orang tua kita berdiri?
Selalu ikut terlabeli pada hal-hal yang tidak seharusnya kita mendapatkannya?
Label-label itu, menyempitkan ruang eksistensi dan ruang kehendak kita sebagai mahluk bebas... kita jadi susah buat menunjukkan jati diri kita yang sebenarnya.
Yah, ngga akan pernah ada ujungnya jika selalu mempertanyakan rasa ’ketidak adilan karena tidak bisa memilih’ itu. Yang ada sekarang, adalah yang nyata. oke, jika ternyata kita ada di pihak yang ’unlucky’ itu, ngga ada gunanya meratapi... well, mungkin kita si ’unlucky’ tidak merasa orang tua kita membanggakan, tapi jadikan mereka ’guru’. Tanpa kata-kata, ambil pelajaran.
Labelling. Mungkin ngga semua dari kita merasakan,
Tapi itulah yang ada didalam kenyataan.
Sabtu, 06 Maret 2010
psst! don't wanna know
i'm, little admirer.
mencintai menunjukkan eksistensi, mengobyeksi orang lain.
dicintai, memposisikan kita menjadi obyek orang lain :
menghilangkan eksistensi diri.
lebih baik hanya merasakan...
..
Minggu, 28 Februari 2010
kepercayaan akan ketidak percayaan
selama ini kita hanya hidup terkurung dalam pemahaman salah yang telah membudaya.
kalo kita gak megikuti apa yang sudah menjadi kebiasaan umum, maka kita akan dianggap 'manusia tidak benar' atau mengutip salah satu dosen saya, ' halal darahmu! ' ( haha )
diejek-ejek ngga jelas, dipojokin, dipersalahkan, dianggap tidak baik, nakal, atau apalah...
padahal apa yang selama ini mereka anggap bener, mereka juga belum tahu itu memang bener atau salah. buat mereka mah, pokoknya ngikuut aja... cari amannya. gitu kan?
sebut aja...
orang yang ateis, itu dosa! orang yang ngga percaya tuhan itu dosa! orang yang tidak punya kepercayaan itu dosa! atau apalah...
well, orag-orang yang ngomong kaya gitu bukan orang yang berpikiran bebas. terkurung dalam suatu batas-batas yang udah menjadi pemahaman umum, menyulitkan dirinya sendiri. ( my gosh, maaf jika kata-katanya terlalu ekstrim )
oke then, mari berfikir bebas... well, ateisme. ateisme adalah suatu kepercayaan bahwa tuhan atau dewa-dewi itu tidak ada. jadi ateisme juga merupakan suatu sistem kepercayaan. well, oke... jika anda bilang ini suatu kepercayaan yang tidak serupa dengan agama, then, percaya pada ini atau percaya pada itu toh merupakan pilihan hidup seseorang kan? tidak ada yang harus disalahkan tentang apa yang seseorang percayai!
dan kalo ngomongin soal dosa... itu juga kembali ke kepercayaan kan.... apa kita percaya akan adanya surga dan neraka yang menghasilkan rasa ketakutan akan dosa, atau kita percaya bahwa dosa itu cuma buatan manusia? nah ya, semua kembali pada kebebasan pikir kita, akal budi ( dan hati nurani ) yang membawa keputusan akan suatu kepercayaan.
just free your mind. telusuri tiap apa yang benar-benar ingin anda tahu....
bukan waktunya menerma begitu saja apa yang mereka bilang benar...
.
kalo kita gak megikuti apa yang sudah menjadi kebiasaan umum, maka kita akan dianggap 'manusia tidak benar' atau mengutip salah satu dosen saya, ' halal darahmu! ' ( haha )
diejek-ejek ngga jelas, dipojokin, dipersalahkan, dianggap tidak baik, nakal, atau apalah...
padahal apa yang selama ini mereka anggap bener, mereka juga belum tahu itu memang bener atau salah. buat mereka mah, pokoknya ngikuut aja... cari amannya. gitu kan?
sebut aja...
orang yang ateis, itu dosa! orang yang ngga percaya tuhan itu dosa! orang yang tidak punya kepercayaan itu dosa! atau apalah...
well, orag-orang yang ngomong kaya gitu bukan orang yang berpikiran bebas. terkurung dalam suatu batas-batas yang udah menjadi pemahaman umum, menyulitkan dirinya sendiri. ( my gosh, maaf jika kata-katanya terlalu ekstrim )
oke then, mari berfikir bebas... well, ateisme. ateisme adalah suatu kepercayaan bahwa tuhan atau dewa-dewi itu tidak ada. jadi ateisme juga merupakan suatu sistem kepercayaan. well, oke... jika anda bilang ini suatu kepercayaan yang tidak serupa dengan agama, then, percaya pada ini atau percaya pada itu toh merupakan pilihan hidup seseorang kan? tidak ada yang harus disalahkan tentang apa yang seseorang percayai!
dan kalo ngomongin soal dosa... itu juga kembali ke kepercayaan kan.... apa kita percaya akan adanya surga dan neraka yang menghasilkan rasa ketakutan akan dosa, atau kita percaya bahwa dosa itu cuma buatan manusia? nah ya, semua kembali pada kebebasan pikir kita, akal budi ( dan hati nurani ) yang membawa keputusan akan suatu kepercayaan.
just free your mind. telusuri tiap apa yang benar-benar ingin anda tahu....
bukan waktunya menerma begitu saja apa yang mereka bilang benar...
.
Jumat, 26 Februari 2010
phylosophy and me
banyak orang, kebanyakan memandang sebelah mata tentang 'filsafat', tentang 'filsuf'...
anda juga kah?
well, mereka sebenernya ga tau gimana dunia filsafat sebenarnya. haha... okay. saya tidak ingin memberikan suatu pembelaan atau apalah yang dinilai sebagai suatu yang membagus-baguskan diri, dan bersifat defensif. big no no!
saya cuma ingin share, tentang kesalahan yang akirnya saya syukuri... hmm, wow... sounds cheesy! lol.
buku pertama yang saya baca saat saya menjadi mahasiswi filsafat judulnya ' Pengantar Filsafat ' karangannya L .O. Katsoff. dan satu-satunya kalimat yang paling saya ingat adalah, "... filsafat bukan membuat roti... "
haha... ya ya, saya tahu... aneh kan? kenapa harus kata-kata membuat roti...
but ya, memang bener. filsafat tidak 'membuat roti', tapi 'dari apa roti itu dibuat? mengapa kita membuat roti? mengapa roti dan bukan sup? ' yaa... seperti itulah kira-kiranya.
oh iya, saya punya dosen yang luar biasa! beneran luar biasa, saya ngga buat-buat. dan saya yakin mayoritas mahasiswa filsafat kenal atau sekedar tau beliau. sebut aja Pak J. selain luar biasa disiplin, beliau luar biasa karena satu-satunya dosen yang selama ini bisa membuat saya (lebih) bangga mempelajari ilmu filsafat.
then, saya kasih bagi sedikit kata-kata beliau yang paling oke! :)
- seorang filsuf tahu sedikit tentang banyak ( general ), dan ilmuwan-ilmuwan lain tahu banyak tentang sedikit.
~ kami, pelajar filsafat ( geez! ) paling tidak harus tahu sedkit tentang banyak hal. walaupun ngga mendalami salah satunya, tapi kita bisa nyambung kalo ngomongin masalah-masalah itu... :)
- sokrates bilang : ( kira-kira gini ) kalo kamu punya istri yang menyenangkan, pasti kamu orang yang bahagia. kalo kamu punya istri yang menyedihkan, pasti kamu jadi filsuf.
~ intinya, mungkin sokrates mau bilang kalo instrinya itu gak menyenangkan.
eh tapi kalo anda punya istri seorang filsuf, maka hidup anda pasti akan menyenangkan! ( haha... gosh! )
- kenapa orang-orang selalu menyanjung orang yang dikagumi ( atau yang disayanginya ) dengan kata 'malaikat'? padahal malaikat itu mahluk yang ngga memiliki kelebihan dari manusia!
Tuhan kan menciptakan manusia sebagai mahluk yang paling mulia, sampai para malaikat itu menunduk saat penciptaan manusia. malaikat itu 'mahluk' yang sudah di-set otomatis oleh Tuhan... kerjaannya juga itu-itu aja.
emang kita pernah denger malaikat menemukan software? malaikat ngeblog? atau malaikat menemukan obat pilek?
~ oke, no comment. just : agree!! eh lagian, siapa sih yang udah membuktikan malaikat itu ada?
- dalam mitologi Yunani, ada seorang pemuda yang sedang bermain disekitar kolam. saat dia memandang kolam dan melihat bayangan wajahnya di permukaan air, dia lalu jatuh cinta pada dirinya sendiri. nama pemuda itu adalah Narsis.
~ that's why, cinta diri sendiri yang berlebihan disebut narsisme!
well. yaa... itu baru beberapanya, yang lainnya masih saya undang kembali kedalam memori saya ( haha )
saya suka filsafat! hhm... membuat saya berani berfikir tentang apa yang orang-orang tidak berani memikirkan. berani berfikir, tentang apa yang orang-orang anggap itu tabu....
a new world for me.
once you touch it, you don't want to let it go!
anda juga kah?
well, mereka sebenernya ga tau gimana dunia filsafat sebenarnya. haha... okay. saya tidak ingin memberikan suatu pembelaan atau apalah yang dinilai sebagai suatu yang membagus-baguskan diri, dan bersifat defensif. big no no!
saya cuma ingin share, tentang kesalahan yang akirnya saya syukuri... hmm, wow... sounds cheesy! lol.
buku pertama yang saya baca saat saya menjadi mahasiswi filsafat judulnya ' Pengantar Filsafat ' karangannya L .O. Katsoff. dan satu-satunya kalimat yang paling saya ingat adalah, "... filsafat bukan membuat roti... "
haha... ya ya, saya tahu... aneh kan? kenapa harus kata-kata membuat roti...
but ya, memang bener. filsafat tidak 'membuat roti', tapi 'dari apa roti itu dibuat? mengapa kita membuat roti? mengapa roti dan bukan sup? ' yaa... seperti itulah kira-kiranya.
oh iya, saya punya dosen yang luar biasa! beneran luar biasa, saya ngga buat-buat. dan saya yakin mayoritas mahasiswa filsafat kenal atau sekedar tau beliau. sebut aja Pak J. selain luar biasa disiplin, beliau luar biasa karena satu-satunya dosen yang selama ini bisa membuat saya (lebih) bangga mempelajari ilmu filsafat.
then, saya kasih bagi sedikit kata-kata beliau yang paling oke! :)
- seorang filsuf tahu sedikit tentang banyak ( general ), dan ilmuwan-ilmuwan lain tahu banyak tentang sedikit.
~ kami, pelajar filsafat ( geez! ) paling tidak harus tahu sedkit tentang banyak hal. walaupun ngga mendalami salah satunya, tapi kita bisa nyambung kalo ngomongin masalah-masalah itu... :)
- sokrates bilang : ( kira-kira gini ) kalo kamu punya istri yang menyenangkan, pasti kamu orang yang bahagia. kalo kamu punya istri yang menyedihkan, pasti kamu jadi filsuf.
~ intinya, mungkin sokrates mau bilang kalo instrinya itu gak menyenangkan.
eh tapi kalo anda punya istri seorang filsuf, maka hidup anda pasti akan menyenangkan! ( haha... gosh! )
- kenapa orang-orang selalu menyanjung orang yang dikagumi ( atau yang disayanginya ) dengan kata 'malaikat'? padahal malaikat itu mahluk yang ngga memiliki kelebihan dari manusia!
Tuhan kan menciptakan manusia sebagai mahluk yang paling mulia, sampai para malaikat itu menunduk saat penciptaan manusia. malaikat itu 'mahluk' yang sudah di-set otomatis oleh Tuhan... kerjaannya juga itu-itu aja.
emang kita pernah denger malaikat menemukan software? malaikat ngeblog? atau malaikat menemukan obat pilek?
~ oke, no comment. just : agree!! eh lagian, siapa sih yang udah membuktikan malaikat itu ada?
- dalam mitologi Yunani, ada seorang pemuda yang sedang bermain disekitar kolam. saat dia memandang kolam dan melihat bayangan wajahnya di permukaan air, dia lalu jatuh cinta pada dirinya sendiri. nama pemuda itu adalah Narsis.
~ that's why, cinta diri sendiri yang berlebihan disebut narsisme!
well. yaa... itu baru beberapanya, yang lainnya masih saya undang kembali kedalam memori saya ( haha )
saya suka filsafat! hhm... membuat saya berani berfikir tentang apa yang orang-orang tidak berani memikirkan. berani berfikir, tentang apa yang orang-orang anggap itu tabu....
a new world for me.
once you touch it, you don't want to let it go!
Selasa, 09 Februari 2010
Kesempatan dan Nasib
dari beberapa hari ini, saya merasa apakah kehidupan itu pernah bertindak adil?
kenapa harus dia yang melakukannya dan bukan orang tuanya?
kenapa dia tidak mempunyai kesempatan hanya untuk sekedar bermain seperti anak-anak seharusnya?
sempatkah dia bertanya pada orang tuanya, " apakah kehidupan memang seperti ini, ayah? "
" tidak, kita hanya tidak memiliki kesempatan "
" siapa yang memberi kesempatan? "
" ......................... "
apakah 'si pemberi kesempatan' tidak memerikan kesempatan kepadanya,
hingga sampai setua inipun tidak memiliki kesempatan menikmati masa tuanya untuk duduk-duduk di beranda, membaca koran sambil minum kopi, dengan cucu-cucu yang berlarian disekitarnya?
dari sejak dilahirkan hingga serenta ini, kehidupan sangat berat.
sedangkan seseorang yang lain, sejak dia dilahirkan sampai meninggalnya, hartanya berkelimpahan.
seperti itukah takdir?
siapa yang berhak berkehidupan layak seumur hidupnya, dan siapa yang harus menanggung beban berat seumur hidupnya?
kenapa harus dia yang melakukannya dan bukan orang tuanya?
kenapa dia tidak mempunyai kesempatan hanya untuk sekedar bermain seperti anak-anak seharusnya?
sempatkah dia bertanya pada orang tuanya, " apakah kehidupan memang seperti ini, ayah? "
" tidak, kita hanya tidak memiliki kesempatan "
" siapa yang memberi kesempatan? "
" ......................... "
apakah 'si pemberi kesempatan' tidak memerikan kesempatan kepadanya,
hingga sampai setua inipun tidak memiliki kesempatan menikmati masa tuanya untuk duduk-duduk di beranda, membaca koran sambil minum kopi, dengan cucu-cucu yang berlarian disekitarnya?
dari sejak dilahirkan hingga serenta ini, kehidupan sangat berat.
sedangkan seseorang yang lain, sejak dia dilahirkan sampai meninggalnya, hartanya berkelimpahan.
seperti itukah takdir?
siapa yang berhak berkehidupan layak seumur hidupnya, dan siapa yang harus menanggung beban berat seumur hidupnya?
atas dasar apa nasib ditentukan?
siapa yang menjatuhkan 'vonis' nasib?
" ................"
.
At the funeral
( Kediri, 9 Februari 2010 )
...dari keempat anak-anak itu, yang paling besar, tepat seumuran saya, ( sebut saja Nan ) dia berulang tahun hari ini, tepat saat hari ayahnya meninggal.
yang kedua ( sebut saja Gik )masih SMA, yang ketiga ( sebut saja Dee ) kelas 4 SD dan yang terakhir ( sebut Vie ) kelas 2 SD...
they're so tough!
i lost my words to say how adorable they are. officially, they have no mom and no dad from this day on.
buat Nan dan Gik, mereka udah pada dewasa, paling engga mereka dah tau gimana harus mengontrol emosi dan perasaannya. sedangkan Dee dan Vie, surprisingly, mereka juga sangat... sangat kuat, dengan kesadaran penuh bahwa ayahnya baru saja meninggal. sama sekali 2 anak itu, mereka ga nangis-nangis. gosh. saya ga bisa bayangin gimana jadinya saya kalo ada di posisi mereka... dengan umur masih semuda itu!
saya sangat mengenal bagaimana kehidupan mereka.
karena dulu, sekitar tahun 2002-an mereka sekeluarga pernah tinggal bersama saya dan keluarga. bahkan Dee lahir di Boyolali.
saya sangat tahu mereka ( Nan dan Gik ) sangat pekerja keras, rajin, dan dewasa untuk anak seumuran kami waktu itu. dan saya tahu waktu itu bagaimana ayah dan ibunya sangat mencintai mereka... such a nice family.
karena keadaan seperti ini, maka tadi mama-papa, dan saudara-saudara lain sudah 'membagi' tanggung jawab akan sepupu-sepupu saya ini. karena Nan dan Gik sudah dewasa, yah.. mereka lebih gampang untuk menghandle. sedangkan Dee dan Vie, dalam usia segitu, mereka tetep membutuhkan figur ayah dan ibu. jadi dengan satu dan yang lain pertimbangan, Dee akan ikut tante yang di Semarang dan Vie akan ikut bude yang di Malang.
dan, ini sedikit obrolan yang bikin saya..., dunno what to say :
bude : nanti dee ikut tante Semarang ya. tante ga punya putra, jadi kalo Dee disana, tante pasti seneng... Dee juga pasti seneng...
Dee : lah Vie? Vie juga kan bude?
bude : vie nanti ikut bude di Malang... Nanti kalo ada libur pasti bude, mbah, sama vie maen ke Semarang... di Semarang sekolahnya bagus...
Oiya. Dee ada hp kan? nanti kan bisa telpon-telponan juga sama mbah...
Dee : rusak, Bude. kemaren Bapak bilangnya mau ngisi pulsa, eh malah dah meninggal duluan. yaudah gak jadi.
(....)
Bude : dee cita-citanya apa kalo dah gede?
Dee : perawat..
Bude : nah, nanti kalo kamu sama tante, tante bakalan nyekolahin kamu sampe tinggi, sampe kamu bisa jadi perawat... bapakmu pasti juga pengen kamu pinter... Dee mau kan?
Dee : ( ngangguk ) tapi bude, sepedaku masih di rumah.
Bude : ya nanti diambil... apa nanti kamu dibeliin tante, sepedamu buat Vie ya. Vie kan ga punya sepeda?
Dee : tapi sepedaku kecil kok bude, Vie mesti malu makeknya
( .... )
Tante : iya nanti dibeliin tante ya Dee.
Dee : yang buat cewek ya tante.
Bude : nah jadi Dee, itu tante mama, ya. mama kamu... jadi kamu punya ( almarhumah ) ibu, punya mama... trus om itu papamu... kamu punya ( alm ) bapak, sama punya papa... ya?
Dee : ( ngeliatin tante sedikit lama lalu ngangguk )
saya tahu, pasti berat buat Dee harus pisah sama Vie. bayangin diumur mereka yang masih sekecil itu. yang seharusnya masih bisa kumpul bareng, satu rumah, maen bareng, belajar bareng, dengan ayah-ibu yang sama... tumbuh dewasa bareng-bareng, like brother like sister. tapi karena memang banyak pertimbangan dan alasan, jadi memang itu keputusan yang paling baek...
dan berkali-kali saya mikir, apa yang bakal saya lakukan jika saya diposisi dia? dengan umur sekian, dan harus menerima kenyataan kaya gitu..
lovely little girl.
RIP Pakde Heri.
with all love
...dari keempat anak-anak itu, yang paling besar, tepat seumuran saya, ( sebut saja Nan ) dia berulang tahun hari ini, tepat saat hari ayahnya meninggal.
yang kedua ( sebut saja Gik )masih SMA, yang ketiga ( sebut saja Dee ) kelas 4 SD dan yang terakhir ( sebut Vie ) kelas 2 SD...
they're so tough!
i lost my words to say how adorable they are. officially, they have no mom and no dad from this day on.
buat Nan dan Gik, mereka udah pada dewasa, paling engga mereka dah tau gimana harus mengontrol emosi dan perasaannya. sedangkan Dee dan Vie, surprisingly, mereka juga sangat... sangat kuat, dengan kesadaran penuh bahwa ayahnya baru saja meninggal. sama sekali 2 anak itu, mereka ga nangis-nangis. gosh. saya ga bisa bayangin gimana jadinya saya kalo ada di posisi mereka... dengan umur masih semuda itu!
saya sangat mengenal bagaimana kehidupan mereka.
karena dulu, sekitar tahun 2002-an mereka sekeluarga pernah tinggal bersama saya dan keluarga. bahkan Dee lahir di Boyolali.
saya sangat tahu mereka ( Nan dan Gik ) sangat pekerja keras, rajin, dan dewasa untuk anak seumuran kami waktu itu. dan saya tahu waktu itu bagaimana ayah dan ibunya sangat mencintai mereka... such a nice family.
karena keadaan seperti ini, maka tadi mama-papa, dan saudara-saudara lain sudah 'membagi' tanggung jawab akan sepupu-sepupu saya ini. karena Nan dan Gik sudah dewasa, yah.. mereka lebih gampang untuk menghandle. sedangkan Dee dan Vie, dalam usia segitu, mereka tetep membutuhkan figur ayah dan ibu. jadi dengan satu dan yang lain pertimbangan, Dee akan ikut tante yang di Semarang dan Vie akan ikut bude yang di Malang.
dan, ini sedikit obrolan yang bikin saya..., dunno what to say :
bude : nanti dee ikut tante Semarang ya. tante ga punya putra, jadi kalo Dee disana, tante pasti seneng... Dee juga pasti seneng...
Dee : lah Vie? Vie juga kan bude?
bude : vie nanti ikut bude di Malang... Nanti kalo ada libur pasti bude, mbah, sama vie maen ke Semarang... di Semarang sekolahnya bagus...
Oiya. Dee ada hp kan? nanti kan bisa telpon-telponan juga sama mbah...
Dee : rusak, Bude. kemaren Bapak bilangnya mau ngisi pulsa, eh malah dah meninggal duluan. yaudah gak jadi.
(....)
Bude : dee cita-citanya apa kalo dah gede?
Dee : perawat..
Bude : nah, nanti kalo kamu sama tante, tante bakalan nyekolahin kamu sampe tinggi, sampe kamu bisa jadi perawat... bapakmu pasti juga pengen kamu pinter... Dee mau kan?
Dee : ( ngangguk ) tapi bude, sepedaku masih di rumah.
Bude : ya nanti diambil... apa nanti kamu dibeliin tante, sepedamu buat Vie ya. Vie kan ga punya sepeda?
Dee : tapi sepedaku kecil kok bude, Vie mesti malu makeknya
( .... )
Tante : iya nanti dibeliin tante ya Dee.
Dee : yang buat cewek ya tante.
Bude : nah jadi Dee, itu tante mama, ya. mama kamu... jadi kamu punya ( almarhumah ) ibu, punya mama... trus om itu papamu... kamu punya ( alm ) bapak, sama punya papa... ya?
Dee : ( ngeliatin tante sedikit lama lalu ngangguk )
saya tahu, pasti berat buat Dee harus pisah sama Vie. bayangin diumur mereka yang masih sekecil itu. yang seharusnya masih bisa kumpul bareng, satu rumah, maen bareng, belajar bareng, dengan ayah-ibu yang sama... tumbuh dewasa bareng-bareng, like brother like sister. tapi karena memang banyak pertimbangan dan alasan, jadi memang itu keputusan yang paling baek...
dan berkali-kali saya mikir, apa yang bakal saya lakukan jika saya diposisi dia? dengan umur sekian, dan harus menerima kenyataan kaya gitu..
lovely little girl.
RIP Pakde Heri.
with all love
Langganan:
Postingan (Atom)













